ABSTRAK Krishna Aditya Siswantoro/

ABSTRAK

Krishna Aditya Siswantoro/ .PERANANAN BUDAYA LITERASI DALAM MENINGKATKAN MINAT MEMBACA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI KOTA KEPANJEN KABUPATEN MALANG. Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang. Juli 2018

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 menjelaskan bahwa Gerakan Literasi Sekolah ditujukan untuk memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti . Salah satu aplikasi gerakan tersebut adalah “Kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Pembiasaan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai lebih baik lagi. Materi bacaan berisi nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka gerakan literasi mengalami perkembangan yang pesat. Materi literasi tidak lagi disajikan dalam bentuk buku atau majalah, tetapi materi literasi disajikan dalam bentuk digital.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Peranan Budaya Literasi dalam meningkatkan Minat Membaca di Kalangan Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Kepanjen Kabupaten Malang”. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan survei eksplanatori, yaitu metode penelitian yang mengambil beberapa sampel dari populasi. Semua sekolah yang di survei sudah melaksanakan kegiatan literasi sekolah dari pertengahan tahun 2016. Kegiatan literasi ini mengembangkan budaya lisan. Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku digital selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini memungkinkan munculnya perbedaan pendapat sehingga kemampuan berpikir kritis siswa dapat diasah lebih baik lagi. Siswa belajar menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan. Pembiasaan literasi di sekolah ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dalam diri warga sekolah karena minat baca merupakan hal yang mendasar bagi pengembangan kemampuan literasi siswa.
Kata kunci: Budaya Literasi, Minat Baca, Pelajar
I. PENDAHULUAN
Permendikbud No.23 Tahun 2015 menjelaskan bahwa motivator literasi adalah para kepala daerah, kepala sekolah, guru, pustakawan, orang tua, mahasiswa dan relawan, bahkan setiap warga masyarakat. Setiap daerah harus memiliki program untuk penumbuhan budaya baca yang terstruktur dan berkelanjutan. Pada kenyataannya, penggerak utama peningkatan minat baca siswa adalah semua guru mata pelajaran di sekolah dan orang tua di rumah. Keduanya menjadi tempat paling penting dalam menumbuhkan budaya baca siswa
Selama ini bangsa Indonesia dianggap tidak memiliki budaya membaca apalagi membaca buku-buku digital. Budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur (Kompas, 2009). Dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang punya minat membaca dan semua negara mewajibkan semua siswanya untuk membaca karya sastra, kecuali Indonesia (UNISCO, 2012). Disebutkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka mendapatkan informasi dari televisi/radio dari pada membaca. Membaca hanya menjadi pelengkap dan tidak dijadikan sebagai sebuah tradisi dalam kehidupan. Rendahnya minat baca dikalangan siswa dan masyarakat Indonesia buruk terhadap kualitas pendidikan. Adalah sebuah kewajaran apabila sudah lebih setengah abad bangsa Indonesia merdeka, permasalahan kualitas pendidikan masih berada dalam potret yang buram.
Pelaksanaan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, sebenarnya, literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003). Budaya Literasi Sekolah merupakan usaha untuk membiasakan kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid , akademisi, penerbit, media massa, masyarakat dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran (disertai tugas berdasarkan Kurikulum 2013). Kegiatan ini dapat berupa perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif. Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, perlu dilakukan penilaian untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan BudayaLiterasi. Perlu ditegaskan juga, bahwa Literasi tidak sekedar membaca dan menulis namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.

II. KAJIAN TEORI

2. 1 Literasi
Istilah literasi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Inggris literacy yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan konvensi yang menyertainya.
Pengertian literasi menurut UNESCO adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya. Pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman.
Dalam kamus online Merriam-Webster, pengertian Literasi adalah kualitas atau kemampuan “melek aksara” yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis serta kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (video, gambar).
Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya, bukan hanya kemampuan baca tulis.
National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwaliterasi secara umum adalah kemampuan individu mengolah dan memahami informasi saat membaca atau menulis. Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis, oleh karena itu, literasi tidak terlepas dari ketrampilan bahasa yaitu pengetahuan bahasa tulis dan lisan yang memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan tentang genre dan kultural.
Meskipun literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang, namun hakekatnya kemampuan baca tulis seseorang merupakan dasar utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas.
Clay (2001) dan Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas :
1. Literasi Dini (Clay, 2001 dalam Early Literacy), yaitu kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan Gerakan Literasi Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Baca sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
2. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
4. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
5. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (computer literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta mengoperasikan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
6. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audiovisual secara kritis dan bermartabat.
Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi. Tahap perkembangan anak dalam belajar membaca dan menulis saling beririsan antartahap perkembangan. Memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka.
2. Program literasi yang baik bersifat berimbang sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, strategi membaca dan jenis teks yang dibaca perlu divariasikan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Literasi yang bermakna dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan bacaan kaya ragam teks, seperti karya sastra untuk anak dan remaja.
3. Program literasi terintegrasi dengan kurikulum pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran sebab pembelajaran mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.
4. Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun. Misalnya, ‘menulis surat kepada presiden’ atau ‘membaca untuk ibu’ merupakan contoh-contoh kegiatan literasi yang bermakna.
5. Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan.
6. Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman Warga sekolah perlu menghargai perbedaan melalui kegiatan literasi di sekolah. Bahan bacaan untuk peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar mereka dapat terpajan pada pengalaman multikultural.
Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi, Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction, menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah.
1. Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karyakarya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.
2. Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Selain itu, literasi diharapkan dapat mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif Gerakan Literasi Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Baca antarguru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.
3. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya. Program Gerakan Literasi Sekolah dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah di seluruh Indonesia. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Berikut ini tahapan Gerakan Literasi Sekolah.
Tahap ke-1: Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.
Tahap ke-2: Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan (Anderson ; Krathwol, 2001).
Tahap ke-3: Pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran (cf. Anderson ; Krathwol, 2001). Dalam tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran). Kegiatan membaca pada tahap ini untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran yang dapat berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu sebanyak 12 buku bagi siswa SMP. Buku laporan kegiatan membaca pada tahap pembelajaran ini disediakan oleh wali kelas.

2.2 Minat Membaca
Pengertian membaca menurut Tampubolon (1990:5), membaca adalah suatu cara untuk membina daya nalar. Dengan kebiasaan membaca daya nalar siswa menjadi lebih terbina. Menurut Artanto (2009), membaca merupakan aktivitas pencarian informasi melalui lambang-lambang tertulis kemudian menalarkannya. Menurut M. Susan Burns dalam bukunya Starting Out Right (1998) minat baca merupakan sesuatu yang kompleks, yang melibatkan keterampilan membaca sekaligus. Fasilitas merupakan salah satu faktor untuk membentuk siswa gemar membaca. Dengan membangun fasilitas yang memadai sebagai sarana untuk membaca, maka minat baca siswa dapat terbentuk. Jadi, sudah seharusnya sekolah membuat perpustakaan yang nyaman agar siswa tertarik dan betah untuk berkunjung. Tentunya perpustakaan dapat dijadikan sebagai tempat sumber informasi bagi siswa. Budaya baca adalah budayanya manusia, manusia tidak akan punya peradaban apabila tidak membaca. Bahkan Islam pun mengajarkan kata pertamanya yaitu “Iqra” (bacalah). Pada saat sekarang keseharian proses intelektual manusia tidak lepas dari proses membaca. Membaca sebagai sebuah aktivitas mencerminkan bagaimana seorang individu mau berkembang dan melihat cakrawala ilmu dengan lebih luas lagi. Membaca yang dalam konteks keingintahuan adalah sebuah hal sangat mulia untuk dilakukan. Maka tidak heran apabila setiap orang mengatakan bacalah selagi kau masih ada. Literasi sekolah bermanfaat bagi siswa untuk memahami karakter atau nilai positif dan negatif, sehingga bisa menjadi rujukan bertingkah laku. Hal lain adalah ketersediaan bahan bacaan. Bahan Bahasa dapat menyiapkan bahan bacaan seperti dongeng lokal yang sesuai latar belakang usia siswa. Bahan bacaan yang didigitalkan bermanfaat untuk mengefisienkan pemakaian ruang bacaan di sekolah. Peserta didik tak harus ke perpustakaan sekolah, cukup membuka perangkat elektronik mereka melalui telepon genggam yang mereka miliki, tinggal sekolah menyediakan fasilitas internet memadai. Dengan demikian, kehadiran Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 dapat berkontribusi nyata bagi pembentukan budi pekerti generasi penerus bangsa.
2. 3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei. Penelitian survei adalah salah satu pendekatan penelitian yang pada umumnya digunakan untuk pengumpulan data yang luas dan banyak. Penelitian ini dilakukan pada populasi besar maupun kecil, dan data yang diambil berasal dari populasi tersebut. Tujuan penelitian survei adalah untuk mengetahui gambaran umum karakteristik dari populasi. Penelitian survei digunakan untuk mengumpulkan informasi berbentuk opini dari sejumlah besar orang tentang suatu isu tertentu. Ada tiga karakteristik utama dari penelitian survei yaitu: pertama, informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu, kedua, informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan baik tertulis maupun lisan dari suatu populasi, dan ketiga, informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi. Penelitian survei dapat dilakukan secara pribadi ataupun kelompok. Penelitian survei bukan hanya dimaksudkan untuk mengetahui status gejala, tetapi juga bermaksud menentukan kesamaan status dengan cara membandingkannya dengan standar yang sudah dipilih atau ditentukan. Survei yang dilakukan dalam penelitian ini dengan melakukan wawancara individual dengan pertimbangan bahwa wawancara individual dapat bersifat lebih personal sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang mendalam, selain itu wawancara

III. PEMBAHASAN

3.1 Hasil Analisis Sekolah yang sudah menerapkan kegiatan Literasi Sekolah.
Semua sekolah yang di survey sudah melaksanakan kegiatan Literasi Sekolah dari pertengahan tahun 2016. Hanya satu SMP yang belum melaksanakan kegiatan Literasi Sekolah yaitu SMP Sunan Giri. Tetapi peneliti belum mendapatkan alasan mengapa pihak sekolah belum melaksanakan kegiatan Literasi Sekolah.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah. Pengalaman peserta didik dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar. Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mempersepsikan informasi, mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi. Literasi Perpustakaan antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, atau mengatasi masalah. Literasi Media, yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
2. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa peran sekolah dalam kegiatan literasi yaitu dengan membangun lingkungan fisik sekolah yang kaya literasi, antara lain: (1) menyediakan perpustakaan, sekolah, sudut baca, dan area baca yang nyaman; (2) pengembangan sarana lain (UKS, kantin, kebun sekolah); dan (3) penyediaan koleksi teks cetak, visual, digital, maupun multimodal yang mudah diakses oleh seluruh warga sekolah; dan (4) pembuatan bahan kaya teks.
3. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dampak kegiatan literasi sekolah yang dirasakan peserta didik yakni dapat mengembangkan dan menciptakan ekosistem sekolah yang menghargai keterbukaan dan kegemaran terhadap pengetahuan dengan berbagai kegiatan, seperti; (a) memberikan penghargaan kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial, dan semangat belajar peserta didik; (b) kegiatan-kegiatan akademik lainnya yang mendukung terciptanya budaya literasi di sekolah; seperti belajar di kebun sekolah, belajar di lingkungan luar sekolah, wisata perpustakaan kota/daerah dan taman bacaan yang ada. Diskusi Program literasi terintegrasi dengan kurikulum pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan. Mengacu pada metode pembelajaran Kurikulum 2013 yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan literasi tidak lagi berfokus pada peserta didik semata. Guru, selain sebagai fasilitator, juga menjadi subjek pembelajaran. Akses yang luas pada sumber informasi, baik di dunia nyata maupun dunia maya dapat menjadikan peserta didik lebih tahu daripada guru. Oleh sebab itu, kegiatan peserta dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari kontribusi guru, dan guru sebaiknya berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku kebijakan sekolah merupakan figur teladan literasi di sekolah. Tujuan Umum Gerakan Literasi Sekolah adalah Menumbuhkembangkan budi pekerti Sedangkan Tujuan Khusus Gerakan Literasi Sekolah adalah: (a) Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah. (b) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat. (c) Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan. (d) Gerakan Literasi Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Baca Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca. Gerakan literasi di sekolah diwujudkan melalui upaya mendekatkan buku dan siswa dengan adanya sudut baca kelas, lingkungan kaya literasi dengan hadirnya pojok baca di lingkungan sekolah, dan revitalisasi perpustakaan dengan beragam kegiatan penunjang pembelajaran. Sekolah juga didorong untuk mengembangkan berbagai kegiatan literasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Untuk memastikan programprogram gerakan literasi sekolah berjalan optimal, sekolah juga ditekankan membentuk Tim Literasi Sekolah.

IV. Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan
Upaya pembiasaan dan pembelajaran literasi yang dilakukan sekolah Menengah Pertama (SMP), umumnya sudah dilakukan secara rutin oleh semua sekolah, kecuali SMP Sunan Giri yang belum ditemukan data adanya aktivitas literasi sekolah. Pembiasaan literasi dilakukan melalui kewajiban membaca kepada siswa, dilakukan secara rutin tiap hari, dengn rentang waktu sekitar 15 menit. Metode yang digunakan melalui pembuatan resume atau raport dari literatur yang dibaca. Metode ini belum dianalisis dan dievaluasi oleh manajemen sekolah, apakah sudah tepat sesuai kebutuhan perkembangan siswa atau belum. Upaya manajemen menumbuhkan minat baca siswa di sekolah bagi pengembangan kemampuan literasi, adalah dengan menyediakan fasilitas literatur yang bervariasi, mulai dari buku teks, cerpen, novel, artikel ilmiah sampai komik. Selain itu, di beberapa sekolah, siswa juga diberi ruang aktivitas literasi yang cukup memadai. Upaya sekolah menciptakan lingkungan dalam membangun budaya literasi sekolah, dilakukan dengan menugaskan siswa secara rutin membaca literature yang beragam, dengan mayoritas frekensi setiap hari dan seminggu dua kali. Peran manajemen sekolah cukup aktif dalam menjalankan kegiatan literasi sekolah melalui monitoring dan pelaporan secara berkala. Saran Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Guru yang membantu serta membimbing siswa secara berkelompok menyusun jurnal hasil literasi sekolah.
4.2 Saran
Disarankan ada forum diskusi literasi sekolah sejenis bedah buku yang dilakukan siswa atau kelompok siswa, dengan guru pendamping. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antarguru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam pengembangan budaya literasi.Disarankan kerjasama dengan penerbit dan perpustakaan yang kredibel untuk membantu siswa dan sekolah mendapatkan referensi yang mutakhir, baik dan lengkap

Daftar Pustaka
Albarricin, D., Wang, W., Li, Hong ; Noguchi, K., 2006. Structure of Attitude;Judgment, Memory and Implications of Change dalam Attitudes ; Attitude Change, Psychology Press: Taylor ; Francis, New York. Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. Westport, CT: Praeger Publishers. Djali. 2007.Psikologi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta. Dalyono. M. 1997. Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. Fisbhein, M ; Azjen, I. 1975, Belief, Attitude, Intention and Behavior: An Introduction to Theory and Research. Addison-Wiley Publishing Company, Massachusetts. Hanurawan, Fattah. 2010. Psikologi Sosial; Suatu Pengantar. PT Remaja Rosdakarya. Moleong, Lexy J. 1996. Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Muhibin, Syah. 2002. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Rosdakarya. Bandung. Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial.Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. PT Remaja Rosda Karya.Bandung. Rakhmat, Jalaluddin ; Idi Subandi. 2016. Metode Penelitian Komunikasi(Edisi Revisi), Simbiosa Rekatama Media. Bandung. Rakhmat, Jalaluddin. 2000. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosda Karya. Bandung. Somadayo, Samsu. 2011. Strategi dan Teknik Pembelajaran Membaca. Graha Ilmu. Yogtakarta. Sumanto, Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. West, Richard ; Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. (Terj. Maria Natalia Damayanti Maer). Penerbit Salemba Humanika. Jakarta. Yuniati, Yenni, Ani Yuningsih, Nurahmawati, 2015. Konsep Diri Siswa Sekolah Menengah Pertama di kota Bandung Dalam Komunikasi Sosial Melalui Smartphone. Jurnal Mimbar Universitas Islam Bandung. Yuniati, Yenni, Ani Yuningsih 2017. Utilization of Smartphone Literacy In Learning Process. Jurnal Mimbar Universitas Islam Bandung. Bacaan Lain : Prof. H. Dr. Engkus Kuswarno, M.S. Potret Wajah Masyarakat Digital Indonesia. Orasi Ilmiah Pada Dies Natalis ke – 55 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. 28 September 2015. Unpad Bandung. http://www.slideshare.net/senopramuadji/digital-in-numbers-indonesia-compilation. Sumber buku: Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-GerakanLiterasi-Sekolah1.pdf M. Susan Burns. 1998. Starting Out Right. KBBI. 2008. Pusat Bahasa DEPDIKNAS. Jakarta.